Berwisata Sejarah di Saung Ranggon, Bekasi

Bekasi menawarkan perpaduan antara kota metropolitan dan kota wisata. Meski dijejali oleh gedung pencakar langit dan riuhnya kendaraan berlalu-lalang, namun wilayah Bekasi menyimpan potensi wisata yang menakjubkan dan sangat layak dikunjungi sebagai salah satu tempat rekreasi.

Sebuah bangunan wisata bersejarah di Bekasi adalah Saung Ranggon. Saung atau rumah ini terletak di daerah Cikarang wilayah Kabupaten Bekasi.

Bangunan yang secara keseluruhan dibangun dari kayu ulin ini berdiri sejak 400an tahun lalu. Beberapa sumber menyebut bangunan ini merupakan jejak tinggal para wali namun ada juga yang mengisahkan bahwa saung ini merupakan tempat pelarian seorang pangeran dari Jayakarta. Sumber lain menyebutkan bahwa situs ini dibangun oleh Pangeran Rangga yang merupakan putra dari Pangeran Jayakarta. Yang sudah pasti kebenarannya adalah situs bersejarah ini sudah hadir pada masa abad ke-16 Masehi.

Saung Ranggon tidak sulit untuk dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Hanya saja kemacetan lalu lintas sering menjadi kendala di dalam menempuh perjalanan.

Beberapa pewarta yang sempat berkunjung ke situs Saung Ranggon ini sempat mewawancara penunggu situs yang menceritakan bahwa saung ditemukan oleh Pangeran Abbas pada tahun 1821 dan merupakan rumah dari Pangeran Rangga setelah terjadi kekalahan melawan VOC pada tahun 1619. Disebutkan juga bahwa Pangeran Rangga membuat rumah panggung dengan luas 7,6 meter x 7,2 meter yang memiliki tinggi bangunan sekitar 2,5 meter ini di area yang relatif sulit dijangkau oleh VOC.

Rumah panggung tersebut memiliki interior yang terbuka tanpa adanya sekat antar ruang. Terdapat tujuh buah anak tangga di pintu utama untuk naik ke dalam ruang. Yang menarik adalah meskipun sudah berabad-abad lamanya usia bangunan tersebut, namun kayu yang menopang rumah Ranggon tersebut tidak keropos sama sekali dan unsur kayu masih nampak sangat kokoh. Berdasarkan informasi pada papan yang terdapat di rumah tersebut, Saung Ranggon merupakan situs yang dilindungi oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional Dibudpar Provinsi Jawa Barat.

Keawetan kayu penyangga rumah, menurut warga setempat dikarenakan kayu ulin memang merupakan salah satu kayu yang sangat kuat dan mampu bertahan ratusan tahun tanpa disentuh oleh rayap karena teksturnya yang sangat keras. Kemudian Saung Ranggon tidak menggunakan paku untuk mengaitkan antar kayu melainkan menggunakan pasak.

Saat ini banyak wisatawan yang berkunjung ke Saung Ranggon, ada yang sekedar berekreasi, ada yang sedang melakukan penelitian budaya, ada juga yang sekedar mencari tempat asyik untuk berfoto dan tidak sedikit pula yang mencari berkah atau rejeki di Saung Ranggon. Beberapa warga meyakini bahwa rumah berbentuk panggung tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan berkah kepada yang datang. Tidak sedikit yang melakukan ritual sejenis semedi atau bertapa di Saung Ranggon. Beberapa pengunjung ditemukan usai melakukan semedi dan menyatakan ingin naik pangkat sehingga datang ke Saung Ranggon.

Karena sakralnya saung tersebut maka terdapat beberapa pantangan yang diinformasikan oleh penduduk setempat kepada pengunjung, salah satunya tidak diperkenankan mengucapkan kata kasar dan makian ketika berada di area saung yang menempati tanah 500 meter persegi tersebut. Saung Ranggon tidak dihuni oleh juru kunci, tamu dapat langsung ke saung hanya dengan bantuan penduduk setempat. Saat ini untuk akses masuk ke saung belum ada tarif khusus yang ditetapkan.

Tempat yang sangat ramai pada malam 1 Muharam, maulid nabi dan bulan-bulan yang dianggap sakral oleh masyarakat ini dapat dikunjungi oleh siapapun tanpa mengeluarkan dana, hanya terdapat kotak sumbangan sukarela di dekat saung dikelola oleh warga sekitar kemudian terkadang pengunjung memberikan uang suka rela kepada masyarakat setempat atau juru kebersihan yang turut memandu pengunjung ketika memasuki saung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*